aku imey, hanya seorang gadis dari sebuah kota kecil yang bernama Sidoarjo..
aku terlahir dengan nama Halimah Assadiyah pada tanggal 8 maret 1986. jadi sebentar lagi aku genap berusia 1/4 abad. banyak hal yang sudah aku lalui dalam hidupku, dari mulai manis, asam, pahit. sebenarnya aku lahir dikota Porong, sebuah sudut kecil dikota Sidoarjo. tapi pada tahun 2006 desaku ditenggelamkan oleh Lumpur Panas. banyak kenangan manis yang tidak mungkin aku lupakan dari kota kelahiranku itu.. jika bisa memilih aku lebih suka tinggal disana, tapi takdir berkata lain.. Tuhan menginginkan aku untuk tinggal di Rumahku yang sekarang. yang tetangga sebelah pun baru beberapa bulan aku baru tau namanya.
sebelumnya aku ingin menceritakan kejadian dimana genangan lumpur itu menghancurkan rumahku..
pada tanggal 10 Agustus 2006, pukul 8.30 pagi aku sedang mandi karena hendak ujian akhir semester di kampus. namun ketika aku dikamar mandi terdengar banyak suara motor dengan kecepatan tinggi (rumahku dikampung jadi motor biasanya jalan pelan2) aku sudah curiga "ada apa ini?" lalu terdengar pengumuman dari masjid (rumahku berdekatan dengan masjid) yang menginstrusikan bahwa warga RT 4 Desa Siring harus segera mengungsi karena tanggulnya JEBOL. lau terdengar pengumuman lagi bahwa semua warga Siring harus segera mengungsi. begitu paniknya aku yang tatkala itu sedang mandi.sehingga aku lari melihat kondisi sekitar rumah tanpa menggunakan alas kaki. banyak warga yang sudah berlarian sambil berteriak "awaas lumpur panas". aku kembali kedalam rumah, mengeluarkan mobil dan kuparkir didepan rumah. aku hanya sempat membawa pakaian seadanya, kotak perhiasan, handphone dan dompet. itu saja. ku masukkan ke dalam mobil, dan aku berlari kembali ke dalam rumah. aku mencari Ibuku dan beliau kutemukan dimeja makan sambil tetap membawa piring beliau menangis. karena buru-buru aku hanya sempat membawakan ibuku beberapa pakaian yang aku ambil seadanya dilemari. and you know what? beliau berkata "aku tadi masak sayur lodeh yang ada dagingnya 1 kg".. "ASTAGAAAAA". lalu aku mencari ayahku yang sudah tua, dan kejutan kedua adalah beliau sedang mandi dan tak mendengar pengumuman dari masjid. begitu tau beliau menyuruhku mengambil koper dikamarku. ternyata beliau sudah ada firasat sebelumnya jadi sudah memasukkan barangnya ke dalam koper. lalu aku mencari kakakku yang sedang hamil tua (ketika itu dirumahku hanya ada aku, orang tuaku dan kakakku yang sedang hamil tua). dia ternyata sedang mengemasi barangnya. lalu semuanya bergegas menuju mobil yang telah aku persiapkan sebelumnya. sebelum semuanya pergi aku sempat mengunci semua pintu rumahku. dijalan aku melihat banyak pemandangan, banyak panci mengambang dan berjalan, kursi plastik yang sebelumnya didalam rumahku mendadak dirumah tetanggaku. aku hampir menangis tapi tak bisa. lalu aku bergegas pergi, menginjak gas sekencang-kencangnya. ternyata di gerbang masuk desaku aliran lumpur telah menunggu kami. aku melawan arus lumpur yang setinggi hampir lutut orang dewasa itu sambil terus berdoa. alhamdulillah mobilku yang notabene sedan tidak mogok padahal mobil didepanku sejenis kijang dan sebagainya telah mogok. aku takut setengah mati. didalam mobil ibu dan kakakku sudah menangis. dan sesampainya didepan Tugu kuning (gerbang masuk kampungku bernama tugu kuning) aku melihat banyak warga yang memberi semangat. "ayoo mbak gas yang kenceng" kata mereka..
ada juga beberapa wartawan yang meliput, dan anehnya aku sempat membuka kaca jendela mobilku sambil berfikir "wah keren nich kalo bisa masuk TV".. dan betul aku masuk TV keesokan harinya.. :) setelah berhasil keluar dari desaku itu aku tetap mengemudi dengan kencang, mungkin ini karena aku tidak bisa menangis jadi kulampiaskan dengan mengebut. kami menuju rumah kakakku. sesampainya dirumah kakakku aku kembali lagi ke desaku itu dengan menggunakan motor karena tau besar kemungkinan jalanan akan macet. sesampainya disana banyak warga nekat masuk kampung karena ingin menyelamatkan harta benda mereka. padahal ketinggian lumpur sudah mencapai perut orang dewasa. yang lebih mengenaskan dari pinggir jalan aku melihat orang tua renta a.k.a Lansia yang terjebak didalam rumahnya dinaikkan ke atas kerukan mobil pengeruk. karena ketinggian lumpur jadi hanya mobil besar yang masuk. miris melihatnya.
lalu kakakku juga nekat masuk desa dan menuju rumahku. disana anehnya menurut kakakku rumah dalam keadaan tidak terkunci. dia masuk dan menemukan banyak benda mengambang. TV dikamarku mengambang, kasurku mengambang dsb. sore harinya setelah lumpur itu surut kami semua bahu membahu mengemasi barang2. menyedihkan memang. sedih bukan karena kehilangan harta benda tapi kehilangan momen dan kenangan yang tidak mungkin terlupakan. masa kecilku kuhabiskan disana. semuanya hilang.
itulah sekelumit kisah ketika aku terkena Bencana Lumpur.
semoga ada hikmah yang bisa diambil dari kisahku.
sampai saat ini ketika aku bermimpi dalam keadaan dirumah aku tetap bermimpi dirumah lamaku bukan dirumah baruku. padahal sudah hampir 5 tahun berlalu.
dan ketika menulis kisah ini aku tetap menangis didalam hati karna aku tetap tak bisa menangis didepan banyak orang..



Tidak ada komentar:
Posting Komentar