A : Kok naik bis gak naik travel?
B : Iya biar HEMAT..
Secuil percakapan itu langsung membuyarkan anganku, membuatku terdiam dan tak mampu berkata-kata lagi..
keesokan harinya aku mencari tau harga travel perjalanannya ternyata 50ribu sampai tujuan, sedangkan harga naik bis 15ribu belum termasuk ongkos naik bemo yang beberapa kali harus berganti. mungkin bedanya 20ribuan, uang yang dulu mungkin hanya terselip di saku celananya tanpa dia sadari. uang yang mungkin dulu dengan mudah bisa ia dapatkan hanya dalam sekejap mata. kini harus ia sisihkan agar bisa dipergunakan untuk keperluan lainnya.
dalam hatiku hanya bisa berkata "Ya ALLAH apa yang sedang terjadi?".
Beberapa tahun yang lalu dia sudah mampu membeli mobil secara TUNAI, mempunyai suatu usaha sendiri dan membeli rumah sendiri. Hidupnya sangat berkecukupan, dia terbilang sangat mapan untuk ukuran seusianya. Tapi entah apa yang terjadi. Saat ini mobilnya sudah dijual, tempat usahanya dijual. Dan entah pekerjaannya apa aku tak tahu. Mukanya kusut, gaya bicaranya sudah tak seperti dulu kala yang terkadang sedikit menyombongkan hasil kerjanya.
--
Hidup itu berputar
Kadang kita diatas dan Kadang kita dibawah. Yang sedang diatas janganlah sombong. Sisihkan hasil kerjamu untuk menabung atau investasi. Yang sedang dibawah semangatlah. Kamu dulu pernah bisa mendaki keatas maka dakilah gunung itu sekali lagi meski terasa lebih terjal.
Kamis, 29 Mei 2014
Rabu, 28 Mei 2014
FENOMENA 29 Mei
Hari ini 29 Mei 2014 tepat delapan tahun lalu lubang pengeboran itu menyemburkan lumpur panas. Yang semestinya mengeluarkan minyak mentah tapi entah karena kesalahan manusia atau faktor alam (hanya Allah yang tahu) malah mengeluarkan lumpur panas yg membumbung tinggi ke udara.
Hari ini 29 Mei 2014 tepat delapan tahun lalu tragedi itu terjadi. Tragedi yang perlahan-lahan tapi pasti menenggelamkan banyak rumah, banyak desa, banyak rumah ibadah, banyak sekolah dan yang pasti banyak kenangan yang ikut terkubur didalamnya.
Hari ini 29 Mei 2014 banyak media baik itu televisi (tentu bukan tivisiji), berita online, selebtwit yang mendadak ramai-ramai membicarakan tentang tragedi itu. Tapi ya khusus hari ini saja, hari lainnya mereka pasti lupa atau dipaksa lupa.
--
Banyak yang membicarakan dan mengatasnamakan korban lumpur lapindo. Tapi apakah mereka benar2 tahu apa yang dirasakan para korban itu. Apa yang saya rasakan? Ya saya salah satu korban tragedi itu. Saya saksi hidup bagaimana lumpur panas itu mengejar-ngejar dibelakangku. Kisah selengkapnya bagaimana aku lolos dari terjangan lumpur baca kisah sebelum ini.
Apa yang mereka (korban) rasakan? mungkin memang ada yang hidupnya lebih sejahtera. Tapi sangat banyak yang hidupnya masih menderita. Menanti kepastian ganti rugi atau yang mereka sebut ganti untung yang tak kunjung dilunasi. Mereka yang hidupnya harus berpindah-pindah kontrakan karena uangnya tak cukup untuk membeli rumah baru.
Kisahku? Sebelum menempati rumah baru ini aku harus merasakan tinggal dirumah saudara selama lebih dari 2 tahun. Ya numpang tinggal ceritanya. Ada teman yang bilang "kamu korban lumpur kok tinggal dikomplek elit" | "belum tahu kan sebelum ini aku 2 tahun gak punya kamar, tiap hari digigit nyamuk nyampek aku opname dirumah sakit kena demam berdarah" Aku tidak malu menceritakannya karena itu bagian dari perjalanan hidupku. Suatu cerita yang akan ku ceritakan ke anak-anakku kelak.
--
Selain masalah materi masih banyak hal yang tidak diketahui atau tidak diperhatikan. Mental. Ya masalah mental. Sekedar info banyak orang stress pasca kejadian itu. Mereka yang tak kuat menanggung beban bahwa rumah mereka, lahan pekerjaan mereka lenyap begitu saja. Bahkan ada beberapa yang masuk rumah sakit jiwa. Ada pula orang yang selama beberapa tahun sebelum berangkat kerja dia naik keatas tanggul merenung terdiam selama beberapa lama. Dan ketika pulang kerja dia naik lagi keatas tanggul untuk merenungi rumahnya. Dia melakukannya selama beberapa tahun dan mungkin sampai sekarang. Kalau aku? sampai sekarang tiap kali mimpi dalam keadaan dirumah selalu masih dirumah lamaku. Dirumah sederhana di desa Siring. Padahal sudah lebih dari 5 tahun aku tinggal dirumah baruku. Dan ternyata banyak yang mengalaminya seperti aku. Mungkin karena kami lahir dan dibesarkan disana.
--
Hari ini 29 Mei 2014 tepat delapan tahun tragedi itu menenggelamkan rumahku.
Hari ini 29 Mei 2014 tepat delapan tahun lalu tragedi itu terjadi. Tragedi yang perlahan-lahan tapi pasti menenggelamkan banyak rumah, banyak desa, banyak rumah ibadah, banyak sekolah dan yang pasti banyak kenangan yang ikut terkubur didalamnya.
Hari ini 29 Mei 2014 banyak media baik itu televisi (tentu bukan tivisiji), berita online, selebtwit yang mendadak ramai-ramai membicarakan tentang tragedi itu. Tapi ya khusus hari ini saja, hari lainnya mereka pasti lupa atau dipaksa lupa.
--
Banyak yang membicarakan dan mengatasnamakan korban lumpur lapindo. Tapi apakah mereka benar2 tahu apa yang dirasakan para korban itu. Apa yang saya rasakan? Ya saya salah satu korban tragedi itu. Saya saksi hidup bagaimana lumpur panas itu mengejar-ngejar dibelakangku. Kisah selengkapnya bagaimana aku lolos dari terjangan lumpur baca kisah sebelum ini.
Apa yang mereka (korban) rasakan? mungkin memang ada yang hidupnya lebih sejahtera. Tapi sangat banyak yang hidupnya masih menderita. Menanti kepastian ganti rugi atau yang mereka sebut ganti untung yang tak kunjung dilunasi. Mereka yang hidupnya harus berpindah-pindah kontrakan karena uangnya tak cukup untuk membeli rumah baru.
Kisahku? Sebelum menempati rumah baru ini aku harus merasakan tinggal dirumah saudara selama lebih dari 2 tahun. Ya numpang tinggal ceritanya. Ada teman yang bilang "kamu korban lumpur kok tinggal dikomplek elit" | "belum tahu kan sebelum ini aku 2 tahun gak punya kamar, tiap hari digigit nyamuk nyampek aku opname dirumah sakit kena demam berdarah" Aku tidak malu menceritakannya karena itu bagian dari perjalanan hidupku. Suatu cerita yang akan ku ceritakan ke anak-anakku kelak.
--
Selain masalah materi masih banyak hal yang tidak diketahui atau tidak diperhatikan. Mental. Ya masalah mental. Sekedar info banyak orang stress pasca kejadian itu. Mereka yang tak kuat menanggung beban bahwa rumah mereka, lahan pekerjaan mereka lenyap begitu saja. Bahkan ada beberapa yang masuk rumah sakit jiwa. Ada pula orang yang selama beberapa tahun sebelum berangkat kerja dia naik keatas tanggul merenung terdiam selama beberapa lama. Dan ketika pulang kerja dia naik lagi keatas tanggul untuk merenungi rumahnya. Dia melakukannya selama beberapa tahun dan mungkin sampai sekarang. Kalau aku? sampai sekarang tiap kali mimpi dalam keadaan dirumah selalu masih dirumah lamaku. Dirumah sederhana di desa Siring. Padahal sudah lebih dari 5 tahun aku tinggal dirumah baruku. Dan ternyata banyak yang mengalaminya seperti aku. Mungkin karena kami lahir dan dibesarkan disana.
--
Hari ini 29 Mei 2014 tepat delapan tahun tragedi itu menenggelamkan rumahku.
Langganan:
Komentar (Atom)
